Satgaswil Kalsel Densus 88 Edukasi 430 Pelajar Tanah Bumbu Cegah Bullying dan Paham IRET
Tanah Bumbu, 1 Oktober 2026 — Tim Pencegahan Satgaswil Kalsel berkolaborasi dengan Kesbangpol Kabupaten Tanbu dalam memberikan edukasi kepada sekitar 430 pelajar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah se-Kabupaten Tanah Bumbu mengenai pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) serta pencegahan bullying di lingkungan pendidikan.
Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 09.00 WITA hingga selesai, bertempat di Aula Kantor Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Hadirkan Sejumlah Narasumber dan Unsur Pemerintah Daerah
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah unsur pemerintah daerah, kepolisian, dan Tim Pencegahan Satgaswil Kalsel sebagai bagian dari upaya memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para pelajar.
Adapun pejabat dan narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu:
Bapak Halidie SAP.MM (Sekertaris badan kesbangpol kab.tanbu), yang memberikan sambutan sekaligus menyampaikan bahwa penguatan moderasi beragama merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas serta kondusivitas Kabupaten Tanah Bumbu.
Ia menekankan pentingnya memperkuat nilai kebangsaan, toleransi, dan semangat persatuan, khususnya kepada generasi muda.
“Generasi muda tidak hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sosial yang damai, toleran, dan harmonis,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Bripka Eko S , Sos menyampaikan materi utama mengenai pengertian Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) serta Bullying kaitannya dengan kerentanan yang dapat dialami anak dan remaja.
Para peserta diberikan pemahaman mengenai proses radikalisasi yang dapat berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari pra-radikalisasi, pencarian jati diri, hingga indoktrinasi.
Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa kondisi seperti kesepian, frustrasi, merasa tidak dihargai, dan krisis identitas dapat menjadi faktor kerentanan yang membutuhkan perhatian dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar.
Bullying Menjadi Perhatian
Selain membahas IRET, Bripka Eko S , Sos memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk bullying di lingkungan pendidikan.
Bullying dapat berupa tindakan verbal, fisik, sosial, maupun cyberbullying melalui media digital. Dampaknya dapat membuat korban menarik diri dari lingkungan sosial, takut datang ke sekolah, mengalami penurunan prestasi, gangguan kesehatan fisik maupun psikologis, hingga trauma.
Dalam penyampaian materi ditegaskan bahwa bullying tidak secara otomatis menyebabkan seseorang menjadi radikal. Namun, pengalaman kekerasan, perasaan terasing, dan kondisi kerentanan tertentu dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan radikalisasi.
Karena itu, para pelajar diimbau untuk tidak diam ketika menjadi korban maupun mengetahui adanya tindakan bullying. Mereka diminta segera melapor kepada orang tua, guru, pihak sekolah, atau pihak berwenang.
Bijak Menggunakan Media Sosial
Para peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pentingnya literasi digital. Pelajar diajak membiasakan prinsip “saring sebelum sharing” dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pelajar diharapkan mampu berpikir kritis serta membedakan konten positif dari konten yang mengandung kebencian, intoleransi, kekerasan, maupun narasi ekstrem yang dapat mengancam persatuan.
Kegiatan Berlangsung Interaktif
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan kuis yang melibatkan para peserta. Sesi tersebut menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengetahui sejauh mana peserta menyerap materi yang telah disampaikan.
Antusiasme pelajar terlihat dari keterlibatan mereka
dalam menyampaikan pertanyaan dan mengikuti kuis selama kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan edukasi ini, para pelajar Kabupaten Tanah Bumbu diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga toleransi, menolak segala bentuk bullying, bijak menggunakan media sosial, serta mampu mengenali berbagai potensi pengaruh negatif yang dapat mengancam persatuan dan keamanan lingkungan pendidikan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk sinergi antara pemerintah daerah, kepolisian, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam membangun ketahanan generasi muda.
Generasi muda yang toleran, kritis, peduli, dan bijak bermedia sosial diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang aman, damai, harmonis, serta bebas dari kekerasan dan paham ekstrem.