May 30, 2026
177736078369f05f8f626b7

Kesbangpol Banjarmasin dan Unit Cegah Satgaswil Kalsel Densus 88 AT Polri terus bergerak dalam upaya membentengi generasi muda penerus bangsa, Kali ini, Tim Berkesempatan mengunjungi SMAN 7 Banjarmasin untuk menggelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan, Edukasi Stop bullying, Intoleransi & Radikalisasi dan Kekerasan, dimulai pukul 10.30 WITA diikuti sebanyak siswa siswi dengan penuh antusias dan Interaktif.

mengingatkan pentingnya wawasan Kebangsaan generasi muda dalam menjaga semangat toleransi dan hindari prilaku bullying

Dalam kesempatan tersebut hadir Kepala Kesbangpol kota Banjarmasin Bapak Ahmad Muzaiyin,S.Sos,MA Menyampaikan tentang pengertian Wawasan kebangsaan yaitu : Cara pandang bangsa tentang diri dan lingkungannya, didasari oleh falsafah cita-cita dan tujuan nasional atau ideologinya serta kemungkinan penyesuaiannya di dunia yang dinamis (terus berubah), semuanya dimulai dari diri sendiri sebagai warganegara”

“Upaya PANCASILA & Penguatan Wawasan Kebangsaan menjadi tarnggungjawab Pemerintah, Pemerintah Daerah dan seluruh warga masyarakat, karena sesual konsep Belanegara adalah menjadi tanggungiawab setiap warganegara

Sekolah ini akan menjadi wadah pembelajaran interaktif, diskusi, dan aksi nyata yang menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Melalui Peningkatan Kesadaran Generasi Muda Tentang Arti Penting PEMAHAMAN Nilai-Nilai Pancasila Melalui Siskobang (Sistem Sekolah Kebangsaan) Di Kota Banjarmasin.

Dalam kegiatan ini dihadiri Iptu Arini SH ( Densus 88 ) Menyampaikan Materi Pengertian Bullying , Intoleransi , Radikalisasi dan Kekerasan di sertai contoh tindakan serta dampak prilaku tersebut

Kaitan Perundungan (Bullying) dengan Intoleransi Tim juga memaparkan bahwa tindakan teror seringkali berawal dari sikap intoleransi dan aksi perundungan (bullying) di sekolah. Oleh karena itu, para siswa diingatkan untuk saling menghargai dan menjauhi segala bentuk kekerasan sebagai fondasi dasar mencegah radikalisme.

Transformasi penyebaran paham radikal kini semakin masif melalui platform digital dan media sosial, sehingga generasi muda menjadi kelompok yang rentan terpapar.

PROSES RADIKALISASI

PRA RADIKALISASI HIDUP NORMAL, NAMUN RENTAN SEPERTI:

1. KESEPIAN,

2. FRUSTASI

3. TIDAK DIHARGAI,

4. KRISIS IDENTITAS

MENCARI JATI DIRI MENCARI JAWABAN ATAS MASALAH HIDUPNYA:

1. CARI SOLUSI KETEMU IDEOLOGI RADIKAL

2. COCOK PIKIRAN

INDOKTRINASI SUDAH TERPENGARUH IDEOLOGI RADIKAL:

1. DIBIMBING MENTOR RADIKAL

2. PENDALAMAN IDEOLOGI

3. MENERIMA NARASI EKSTREM

4. KOMITMEN PADA KELOMPOK

AKSI TEROR SIAP BERTINDAK

1. MERENCANAKAN SERANGAN

2. MENGUMPULKAN LOGISTIK AKSI TEROR

Dalam paparannya, mendorong terciptanya kesadaran kolektif melalui penguatan sikap toleransi, jauhin konten kekerasan , bersikap positif di media sosial serta hindari berita Hoax , Jauhi dan hindari prilaku bullying karena sangat berdampak buruk negatif baik bagi pembully maupun yang di bullying.

Pada kegiatan ini juga membuka sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para siswa siswi diberikan kesempatan berdialog langsung dengan personil Densus 88 AT Polri. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama dan deklarasi

“Saya Anak Indonesia!”

“Saya Menolak Radikalisasi & Terorisme!

“Saya Menolak Bullying & Kekerasan!”

“Saya Siap Menjadi Pelindung Teman!”

sebagai bentuk komitmen bersama

Diharapkan lingkungan sekolah semakin kondusif, bebas dari perundungan, serta mampu menjadi benteng awal dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *